Bandung, UPI

Berhati-hatilah jika kita makan dan berkata-kata, bukan tidak mungkin kedua hal tersebutlah yang membawa kita kepada kemudharatan, yang dapat menjerumuskan kita pada perbuatan yang dilaknat oleh Allah swt.

Demikian ungkap Prof. Dr. K.H. Syihabuddin, M. Pd., dalam kajianya yang disampaikan saat kegiatan Silaturahim Keluarga Besar Universitas Pendidikan Indonesia bersama Prof. Dr. K.H. Syihabuddin, M. Pd., di Gedung Ahmad Sanusi, Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudhi Nomor 229 Bandung, Rabu (5/7/2017).

Dikatakannya,”Makan dan makanan sangat berpengaruh terhadap tubuh manusia, spiritualitasnya, dan ibadahnya, maka atas dasar tersebut kita diperintah shiyam dari makan dan minum.”

Lebih lanjut dijelaskan, makna kata shaum memiliki tiga makna, yaitu menahan diri dari makan, menahan diri dari berbicara, dan menahan diri dari bepergian. Dalam konteks Alquran, kita akan menjumpai dua kata, yaitu shiyam dan shaum. Kata shiyam diulang 8 kali dalam ayat Alquran.

“Namun, hal pertama yang harus kita lakukan adalah kita harus menyampaikan pengakuan atas apa yang kita nikmati adalah karunia dari Allah swt. Kita me-rekognisi karunia Allah swt dengan mengucap Alhamdulilah. Bobot bacaan Alhamdulilah sangat besar. Karena Nabi Muhammad, hidup menjadi terarah, oleh karena itu kita harus ber-sholawat karena bisa menimbulkan kebaikan. Selesai ramadhan, kita harus banyak memuji Allah swt, dan memuji Nabi Muhamad. Semoga ibadah yang kita lakukan, mendapatkan pahala yang berlipat ganda,” jelasnya.

Bercepatlah dan bergegaslah menuju ampunan Allah swt, ujarnya. Alquran diturunkan melalui malaikat Jibril, kemudian menuju Nabi Muhammad, rasul terpilih dari nabi-nabi Allah swt. Jika Alquran dimasukan ke dalam diri kita maka akan kita menjadi manusia yang terbaik dengan barokah dari Alquran yang diturunkan pada saat bulan ramadhan.

Diungkapkannya,”Kita diperintah shiyam dari makan dan minum karena keduanya sangat berpengaruh terhadap tubuh manusia, spiritualitasnya, dan ibadahnya. Alasannya, secara historis, kita berada di dunia karena makanan. Nabi Adam as. dan Hawa yang tidak mau shiyam terbujuk setan untuk mendekati pohon keabadian dan menyantap buahnya. Kedua, para malaikat mengutuk orang yang di dalam perutnya terdapat makanan haram. Ditegaskan Nabi Muhammad saw, orang yang beribadah tetapi dia juga menyantap makanan haram, maka dia seperti membuat bangunan di atas pasir.”

Allah tidak menerima ibadah shalat dan doa seseorang selama 40 hari lantaran dia menyantap makanan haram, tegasnya. Daging yang tumbuh dari makanan haram lebih layak untuk santapan api neraka daripada digunakan untuk beribadah, sehingga dapat disimpulkan, ketika kita mendapatkan kesulitan dan keterpurukan dipastikan disebabkan oleh makanan haram yang kita santap.

“Pergunakan nalar untuk menelaah makanan yang akan kita santap, bagaimana makanan tersebut berasal. Kita sudah kehilangan benih, artinya soal makan bukan apa yang ada dipiring kita, tapi dari mana makanan tersebut berasal. Allah berulang kali menyuruh kita memperhatikan, menelaah, mencermati makanan yang kita santap. Hendaklah kita menyantap makanan yang halal lagi baik dan tidak menyantap makanan secara berlebihan,” harapnya.

Semua berawal dari makanan, makanan yang menjadikan kita cerdas. Universitas (UPI) diharapkan dapat melakukan penelitian terhadap halal food, karena pendidikan dimulai dari makanan yang dimakan. UPI memiliki program studi yang relevan dengan makanan seperti Prodi Tataboga, Prodi IPAI, Prodi MIK bahkan Mesjid Al Furqon.

Diharapkannya,”Selain meneliti, UPI diharapkan bisa mengedukasi masyarakat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang cara menyembelih, menyiapkan makanan, dan menyajikannya secara syar’i dan etika, serta membenahi kantin yang berlandaskan pada etika dan hukum Islam.”

Sementara itu, kita juga harus shaum dari berkata-kata, lanjutnya. Kata shaum hanya disebutkan satu kali dalam Alquran yang mengandung makna menahan diri berkata-kata yang buruk, dari menulis pesan provokatif, menyebarkan berita hoax, ghibah, mencela, menghina, dan perkataan buruk lainnya. Jika tidak shaum maka  timbul berbagai persoalan.

“Shaum sangat penting karena bahasa adalah apa yang ada dalam diri kita. Perkataan yang keluar dari mulut kita, hanya simbol yang sebenarnya adalah apa yang ada dalam diri kita, jika kita ingin mengetahui seseorang maka lihatlah dari apa yang dia bicarakan dengan berbagai gaya bahasa,” jelasnya.

Siklus kinerja manusia terdiri dari makna, kata, dan tindakan. Manusia memformulasikan pengalaman ke dalam makna, mengungkapkan makna dalam bentuk kata, dan mewujudkan makna kata dalam kerja.

Allah mengilustrasikan kata yang baik dengan pohon, karena penyebaran kata dapat meluas dan mendunia seperti penyebaran biji hingga menjadi sejumlah pohon. Kata yang baik itu menghunjam ke dalam wahyu, mengakar ke dalam nilai-nilai yang agung, dan menembus nilai-nilai kebenaran yang abadi. Batang dan cabang-cabang pohon itu menjulang ke langit, tidak menjuntai ke bumi. Kata yang buruk itu seperti pohon yang buruk. Kata itu akan menyebarkan keburukan kepada banyak orang. Orang beriman seringkali terpesona dan terpukau oleh maraknya keburukan sehingga mengesankan sebagai kebenaran. Allah swt hendak mengajarkan kepada orang beriman agar berkata dengan cermat, berhati-hati, dan tidak mengumbar atau menyebarkan kata yang belum tentu kebenarannya.

“Melalui kajian ini dapat ditegaskan bahwa pendidikan dimulai dari mengupayakan segala sesuatunya dari yang halal, seperti penghasilan yang halal, menyantap makanan halal, makanan yang thayyib, dan tidak israf (berlebihan), karena nantinya akan membuahkan karakter yang baik, ilmu yang bermanfaat,  dan pengetahuan yang berkah. Sementara itu istilah shaum menegaskan bahwa pendidikan dimulai dari mengucapkan kata yang thayyib dan bermanfaat, yang bersumber pada nilai keabadian, yang mendatangkan manfaat setiap saat,” tutupnya. (dodiangga/Humas)

Sumber: Berita UPI

Silaturahim Idul Fitri: Awali Dengan yang Halal